Perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dengan China atau ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) telah memasuki babak realisasi sejal januari tahun ini. Hasilnya, produk impor dari China semakin mendominasi pasar Indonesia dan mengancam eksistensi industri dan usaha menengah kecil serta kemandirian Indonesia. Kesepakatan pemerintah akan perjanjian perdagangan bebas disadari atau tidak telah membunuh ekonomi negeri ini secara perlahan namun pasti.
Posisi perekonomian di banyak negara saat ini mulai membaik dari sisi indikator permintaan dan pertumbuhan. Kondisi ini mendorong berbagai negara mendeklarasikan diri telah keluar dari resesi ekonomi. Namun di tengah deklarasi tersebut terdapat paradoks, yakni semakin bertambahnya jumlah pengangguran.
Arus liberalisasi ekonomi yang didorong oleh pemerintah telah menimpa PLN. Langkah pemerintah “berlepas tangan” dan melakukan privatisasi terhadap PLN menyebabkan BUMN ini harus mencari sendiri sumber pendanaan. Salah satunya adalah dengan menarik hutang melalui obligasi.
Ekonomi Syariah atau ekonomi Islam dengan Kapitalisme bagaikan surga dengan neraka. Posisi berlawanan baik dari sisi akidah maupun aturan membuat keduanya tidak mungkin berada untuk saling memajukan.
Berkaitan dengan hal ini, pakar marketing Indonesia, Hermawan Kartajaya sebagaimana diberitakan Kompas.com (11/7/2009), menyatakan kehadiran Boediono di tampuk kekuasaan sebagai wakil presiden akan memajukan ekonomi Syariah di Indonesia dan dunia internasional.
Dalam diskusi ‘Boedionoomics’ di Hotel Borobudur (26/5/2009), Chatib mengemukakan, tidak ada jejak neoliberal pada ekonomi Indonesia sejak dulu hingga Boediono memegang jabatan tinggi dalam pemerintahan. Inilah “dusta kaum neolib” yang “banci” tidak mau mengakui bahwa mereka dan sejumlah pejabat negara adalah orang-orang neolib.
Hari ini (18/5/2009) di Kompas halaman 15 saya membaca sebuah tulisan seorang ekonom yang memuji setinggi langit CaWapres Boediono. Tulisan tersebut berjudul Tantangan BI Sepeninggalan Boediono. Memuji Boediono setinggi langit tentu saja sekalian bertepuk tangan atas prestasi ekonomi pemerintahan SBY.
Membaca judul tulisan ini, mungkin anda akan bertanya-tanya? Apa benar bankir adalah musuh bagi perekonomian suatu negara? Bukankah kebutuhan akan lembaga perbankan merupakan kebutuhan mutlak dalam sebuah perekonomian, baik untuk kebutuhan modal, penyimpanan, investasi, maupun transaksi?
Memang benar lembaga bank mutlak adanya dalam perekonomian tanda petik. Yakni perekonomian Kapitalisme ataupun perekonomian yang mengadopsi Kapitalisme. Tanpa bank Kapitalisme tidak bisa hidup, tetapi dengan bank Kapitalisme juga semakin larut dalam “pusaran” kehancuran.
Siapa yang tidak kenal dengan Keynes? Atau lebih lengkapnya John Maynard Keynes. Semua mahasiswa fakultas ekonomi khususnya yang telah mengambil mata kuliah ekonomi makro pasti pernah mendengar nama kesohor ini.
Siapa yang tidak kenal dengan Keynes? Atau lebih lengkapnya John Maynard Keynes.
Tahun 2009 ini ekonomi Indonesia menghadapi tekanan yang lebih berat dengan besarnya jumlah utang swasta yang jatuh tempo, yakni sebesar 22,6 miliar dollar AS. Padahal tahun ini pula pemerintah Indonesia menganggarkan pembayaran utang dalam APBN sebanyak Rp 172 trilyun.