Bencana finansial di AS membuat beberapa pembela kapitalisme mempertahankan diri, sebagaimana Allan Greespan dan Francis Fukuyama. Mereka mengatakan bahwa krisis yang terbesar pasca Malaise (1929) itu sama sekali bukan kesalahan kapitalisme dan pasar bebas. Mereka menyebut bahwa krisis itu lebih dikarenakan kerakusan para pebisnis yang melakukan bisnis derivatif, kecerobohan masyarakat dengan sikap yang tidak “cerdas pasar”, serta kegagalan pemerintah melakukan good governance. Tapi tampaknya banyak yang tak percaya pada bantahan yang terkesan defensif apologetik itu. Ini karena secara fakta terdapat banyak kejanggalan dari alasan kedua fundamentalis kapitalisme itu.
Tampilnya Barack Obama, capres partai Demokrat, sebagai ikon politik baru AS disambut dengan gembira oleh banyak kalangan di Indonesia. Kegembiraan itu semakin bertambah dengan semakin anjloknya popularitas George W. Bush yang tampaknya semakin menyurutkan pula popularitas John McCain, rival Obama dari kubu Republik yang akan meneruskan program-program Bush. Apalagi belum lama ini Joe Bidden, cawapres Obama, menyatakan bahwa persahabatannya dengan McCain hendaklah ia kalahkan demi semangat perubahan pada negeri paman Sam itu.
Apa hubungan antara otonomi daerah dan kesejahteraan? Mengapa dalam era otonomi daerah sekarang justru kemiskinan sangat merajalela? Sebagaimana dinyatakan Bank Dunia, angka kemiskinan di Indonesia mencakup lebih dari 70 juta jiwa. Lantas apakah berarti otonomi daerah justru berkorelasi negatif terhadap kesejahteraan?