Benarkah berbagai argumentasi pembatasan subsidi BBM dan penghapusan subsidi BBM yang disampaikan pemerintah hanyalah mitos belaka? Untuk mengupas apakah benar hal tersebut merupakan mitos, silahkan baca artikel berikut yang ditulis oleh M. Hatta pada link ini.
Assalamu’alaikum Ustadz,
Banyak warga kampung saya menyatakan bahwa tidak mengapa harga BBM naik karena untuk menutupi anggaran pemerintah yang defisit. Ketika membeli minyak, kita niatkan saja untuk membantu negara yang sedang defisit. Saya sebagai bagian dari rakyat Indonesia menjadi bingung. Mohon pencerahannya.
Wassalam
(Tazkia Amalia, tut_xtan@xxxxx.com)
Komprador, bagaimana kabarnya hari ini? Semoga anda sekalian dapat melihat siapa diri kalian sebenarnya. Amin.
Oya, jum’at malam (23/5) lalu anda sekalian mengumumkan kebijakan Konsensus Washington (KW), untuk itu saya ucapkan selamat karena anda sekalian berhasil membuktikan diri sebagai abdi Washington Sekali lagi dari lubuk hati yang paling dalam, saya ucapkan selamat untuk anda sekalian.
Oleh: Hidayatullah Muttaqin
Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro kepada Kompas (28/5) menyatakan Indonesia keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Purnomo mengaku telah menandatangani surat pengajuan keluar dari anggota OPEC. Menurut Purnomo, status Indonesia sebagai negara pengimpor minyak dengan tingkat produksi yang terus menurun menyebabkan Indonesia memiliki perbedaan kepentingan dengan OPEC.
Laporan Khusus
Ismail Yusanto: Liberalisasi Migas dan BBM Melanggar Hukum Allah
Jurnal-ekonomi.org :: “Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum”, demikian ungkapan yang sering kita dengar dari petinggi negara dan aparaturnya. Tapi apa jadinya negara ini jika pelanggaran hukum yang ditindak hanyalah pelanggaran hukum yang dilakukan oleh rakyat kecil sementara pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang yang berkuasa atau memiliki banyak uang dibiarkan berlalu begitu saja.
Kebijakan pemerintah menaikan harga BBM merupakan buah dari liberalisasi sektor migas khususnya dan sektor ekonomi pada umumnya. Menurut Ismail Yusanto, liberalisasi sektor migas di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan.
Ada fenomena yang semestinya diamati secara serius, yakni bentuk respon pemerintah, khususnya komentar Wapres Yusuf Kalla yang akhir-akhir ini cenderung provokatif. Rupanya tidak ada cara lain bagi “negarawan” ini untuk berkomentar selain dengan cara itu. Apakah ada udang dibalik batu?
Pemerintah sudah memukulkan palu tada kebijakan penaikan harga BBM secara resmi dilakukan pemeritah. Menanggapi kebijakan pemerintah ini, ekonom Universitas Islam Bandung Hady Sucipto yang dihubungi Jurnal Ekonomi Ideologis mengatakan, “pemerintah sudah tidak lagi memiliki hati nurani, tidak mendengar penolakan rakyat untuk penangguhan kenaikan BBM”. Menurut dosen Studi Pembangunan Unisba ini, kenaikan harga BBM berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa dimana kenaikannya jauh lebih besar dibandig kenaikan harga BBM.
DPRD Kalsel Gelar Konferensi Pers Menolak Kebijakan Pemerintah
Jurnal-ekonomi.org – Sebagai respon atas kebijakan zalim pemerintahan SBY-JK, HTI Kalsel dan KPSI Kalsel pada hari Rabu (21/5) mengirimkan delegasi untuk menemui pimpinan DPRD Kalsel. Delegasi HTI Kalsel diwakili Ust. Hidayatul Akbar (Humas HTI Kalsel) dan Hidayatullah Muttaqin (Departemen Politik HTI Kalsel) sedangkan KPSI Kalsel diwakili oleh Dr. Hasan Zein. Di samping dari HTI da KPSI, elemen mahasiswa dari Gema Pembebasan Unlam juga mengirimkan delegasinya menemui pimpinan DPRD. Di gedung DPRD, mereka diterima wakil pimpinan DPRD Kalsel Riswandi.
Kebijakan zalim pemerintah yang sudah melampaui batas dengan menaikan harga BBM diakibatkan oleh penyakit ‘amnesia’ yang diderita pemerintah. Menurut Hidayatullah, “Amnesia pemerintah adalah penyakit yang menyebabkan pemerintah lupa siapa dirinya, lupa bahwa dirinya adalah penanggungjawab dan pengatur urusan rakyatnya, lupa bahwa dirinya harus melindungi dan mensejahterakan rakyatnya”.