Pada 20-22 September 2010 lalu PBB menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi tentang Millennium Development Goals (MDG) di New York. KTT MDG yang mengangkat tema We Can End Poverty by 2015 dihadiri kurang lebih 150 kepala negara dan pemerintahan. KTT berupaya untuk menggalang komitmen para pemimpin dunia memerangi kemiskinan. Apa yang menjadi latar belakang MDGs?
Hari ini (14/8) dalam pidato kenegaraan di depan Sidang Paripurna DPR RI, Presiden SBY menyampaikan pandangannya tentang paradigma dan strategi pembangunan ekonomi. Menurut SBY, Indonesia tidak boleh terjerat Kapitalisme Global.
Seiring semakin disadari dan dirasakan oleh banyak manusia akan bau busuk dari sistem ekonomi Kapitalisme. Seiring dengan hal itupula terlahirlah banyak respon terhadapnya, ada yang merespon dengan cara menolaknya secara totalitas dan ada pula yang masih mencoba mencari yang bermanfaat darinya. Bentuk respon yang kedua inilah yang dipilih oleh SBY setelah sebelumnya dikatakan sering kali mengambil kebijakan ala neo liberal yang merupakan salah satu varian dari Kapitalisme. Bentuk responnya itu ia namai dengan ekonomi jalan tengah.
Rontoknya saham-saham di bursa saham dunia merupakan fenomena yang sangat mengejutkan. Namun, hal ini tidaklah aneh. Sebab sudah dari dulu terjadi krisis keuangan yang diakibatkan oleh sistem ekonomi ribawi yang eksploitatif dan membuat perekonomian didominasi sektor non riil (unriil sector).
Siapa yang tidak kenal dengan Keynes? Atau lebih lengkapnya John Maynard Keynes. Semua mahasiswa fakultas ekonomi khususnya yang telah mengambil mata kuliah ekonomi makro pasti pernah mendengar nama kesohor ini.
Siapa yang tidak kenal dengan Keynes? Atau lebih lengkapnya John Maynard Keynes.
Benar-benar keterlaluan dan tidak tahu diri. Itulah kira-kira komentar yang dapat kita berikan untuk kalangan korporasi kapitalis di Amerika. Betapa tidak di tengah krsisis berat yang melanda negeri tersebut, dengan rakusnya perusahaan asuransi terbesar Amerika AIG membagi-bagikan bonus jutaan dolar AS kepada jajaran eksekutifnya.
Assalamu’alaikum wr. Wb. Ustadz, meskipun banyak negara yang menerapkan sistem demokrasi (tidak menerapkan sistem ekonomi syariah) namun kenyataannya banyak Negara yang sejahtera. Terbukti tingkat pendapatan perkapita mereka tinggi (http://www.forbes.com/lists/2008/6/biz_bizcountries08_Best-Countries-for-Business_GDPPerCap.html). Apakah ini berarti bahwa demokrasi itu sekedar alat, yang penting sejahtera ? Terima kasih atas jawabannya. Wassalam Andi di Jakarta Jawaban : Wa’alaikum salam wr. Wb. [...]
Kejatuhan pasar saham dunia terus berlanjut kemaren (3/3/), mengikuti keanjlokan pada hari sebelumnya. Keadaan ini terjadi setelah the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD memperingatkan bahwa resesi global akan lebih buruk dari perkiraan. “Resesi akan semakin dalam, tidak ada keraguan akan hal itu… Saya pikir pada kuartal ini akan menjadi kuartal paling buruk untuk semua,” kata Kepala Ahli Ekonomi OECD Klaus Schmidt-Hebbel.