
Kejatuhan pasar saham dunia terus berlanjut kemaren (3/3/), mengikuti keanjlokan pada hari sebelumnya. Keadaan ini terjadi setelah the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD memperingatkan bahwa resesi global akan lebih buruk dari perkiraan. “Resesi akan semakin dalam, tidak ada keraguan akan hal itu… Saya pikir pada kuartal ini akan menjadi kuartal paling buruk untuk semua,” kata Kepala Ahli Ekonomi OECD Klaus Schmidt-Hebbel.
Sebuah pernyataan sangat menarik disampaikan oleh Wakil Presiden M. Jusuf Kalla. Wapres menyatakan sistem ekonomi Islam lebih mampu bertahan di tengah krisis global dibandingkan sistem Barat (Kapitalisme). Hal ini disebabkan sistem ekonomi Islam berbasis real transactionsedangkan Barat unreal transction.
Nouriel Roubini, Kepala RGE Monitor dan Profesor Ilmu Ekonomi Universitas New York mengatakan kepada Financial Times (9/2/09), bahwa supervisi dan regulasi sistem keuangan model Anglo-Saxon telah gagal. Jika orang Barat sendiri sudah mengatakan Kapitalisme telah gagal mengapa kaum muslim tetap mempertahankannya. Bahkan di tengah megapnya pesta demokrasi tahun ini, mereka bahkan tidak terpikir sama sekali untuk memilih sistem yang benar (Islam) justru mereka terperangkap dalam pilihan hanya memilih orang.

Neoliberalisme (neoliberalism) merupakan sekumpulan kebijakan ekonomi yang merujuk kepada pemikiran bapak ekonomi Kapitalis Adam Smith. Kelahiran neoliberalisme tidak dapat dipisahkan dari keberadaan ideologi Kapitalisme. Sedangkan realitas krisis ekonomi yang terjadi secara berulang-ulang pada dasarnya cermin kegagalan Kapitalisme memelihara ekonominya.
Banyak orang di seluruh dunia termasuk Indonesia berharap Obama dapat mengubah wajah Amerika yang “jahat” menjadi “baik hati”. Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengatakan: “Ini memang menantang dan menarik karena ada sesuatu yang baru. Tetapi, dunia cuma bisa berharap, Obama akan menghadirkan tata dunia baru yang tidak lagi berbasis pada hegemoni arogan negara yang bernama AS ini”. Perubahan kepemimpinan di AS dari Bush ke Obama harus dilihat sebagai pergantian kepemimpinan yang biasa terjadi. Dan tentu saja setiap kebijakan dan keputusan Obama senantiasa terikat dengan fikrah dan thariqah Kapitalisme.
Bencana finansial di AS membuat beberapa pembela kapitalisme mempertahankan diri, sebagaimana Allan Greespan dan Francis Fukuyama. Mereka mengatakan bahwa krisis yang terbesar pasca Malaise (1929) itu sama sekali bukan kesalahan kapitalisme dan pasar bebas. Mereka menyebut bahwa krisis itu lebih dikarenakan kerakusan para pebisnis yang melakukan bisnis derivatif, kecerobohan masyarakat dengan sikap yang tidak “cerdas pasar”, serta kegagalan pemerintah melakukan good governance. Tapi tampaknya banyak yang tak percaya pada bantahan yang terkesan defensif apologetik itu. Ini karena secara fakta terdapat banyak kejanggalan dari alasan kedua fundamentalis kapitalisme itu.
Ustadz, Terkait dengan krisis financial di AS yang ditandai dengan kebangkrutan beberapa perusahaan yang bermain di bursa saham, salah satu topik berita visual yang tersaji di CNN adalah “Bubble Watch is needed” (http://www.truveo.com/Bubblewatch-system-needed/id/201504400). Judul ini memberikan beberapa interpretasi. Pertama, judul itu menyiratkan bahwa bubble dalam ekonomi khususnya yang terjadi di industri keuangan menjadi sebuah kelumrahan sistem. Kedua, diperlukan infrastruktur atau instrumen kebijakan ekonomi yang sifatnya permanen untuk mengidentifikasi kemunculan bubble dan melakukan treatments terhadap kondisi bubble. Akhirnya bubble dianggap tak beda dengan inflasi, sekedar fenomena wajar atau bahkan keniscayaan dalam ekonomi, meskipun implikasi negatif dari bubble berpuluh atau beratus kali lipat bagi perekonomian. Apakah benar demikian ?
Indonesia ‘dalam bahaya’! Indonesia telah terjual. Benarkah demikian? Apa indikasi bahwa Indonesia telah terjual? Siapa yang dengan tega menjual Indonesia? Bagaimana modus operandinya? Atas dasar kepentingan apa mereka menjual Indonesia?
Untuk mengupas tuntas pertanyaan diatas, redaksi al-wa’ie (Gus Uwik) mewawancarai Bapak Hidayatullah Muttaqin, SE, MSI, Dosen Tetap Ekonomi Pembangunan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin serta Direktur Institut Ekonomi Ideologis Banjarmasin. Berikut petikannya.
KAPITALISME DI UJUNG TANDUK, KHILAFAH DI DEPAN MATA
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ustadz, apakah benar saat ini kapitalisme sudah berada di ujung tanduk ?
Mohon pencerahannya.
Terima kasih.
Wassalam
Bagi kaum sekular dan liberal, peradaban Kapitalisme dianggap peradaban yang paling hebat. Francis Fukuyama, pemikir Amerika asal Jepang, mengklaim dengan hancurnya komunisme awal 1990-an, peradaban Kapitalisme telah menjadi babak akhir sejarah. Tapi apakah kehancuran komunisme berarti kehebatan kapitalisme?