Menteri Keuangan Singapura menyatakan kejatuhan pasar saham berdampak pada usaha Tamasek Holdings Pte. BUMN Singapura yang bergerak di bidang investasi tersebut mengalami kerugian secara siknifikan.
KTT G-20 baru saja usai. Namun para pemimpin utama dunia tidak berhasil menemukan akar permasalahan krisis yang tengah mendera dunia saat ini, para pemimpin itu hanya bisa meredam krisis dengan menambah jumlah dana kepada dana moneter internasional (IMF). Sebuah pertemuan yang sia-sia.
Ini adalah ebook yang dipublikasikan dari situs JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS. Ebook ini membahas tentang bagaimana posisi kebangkrutan Amerika Serikat akibat krisis finansial telah menghantar negara tersebut dan ideologi Kapitalismenya ke dalam kegagalan sistem (Failed System).

Komite Pasar Terbuka Federal bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (Fed) akhirnya mengambil langkah “pragmatis” di dalam penanganan krisis keuangan di AS, yakni dengan mencetak mata uang dollar. Pencetakan dilakukan antara lain untuk membeli obligasi pemerintah AS senilai US$ 300 miliar.
Makin nampak saja kerusakan ekonomi dunia. Setelah berbagai laporan dan prediksi buruk tentang perekonomian dunia bermunculan baru-baru ini, kini giliran Micahel Camdessus, mantan Managing DirectorIMF menyatakan sikap “apatisnya” terhadap ekonomi dunia.
Krisis global semakin menunjukkan kekuatannya dengan melenyeapkan aset-aset finansial dalam jumlah besar. Bank Pembangunan Asia -Asian Depevelopment Bank (ADB)- melaporkan kerugian akibat krisis keuangan global pada tahun 2008 mencapai US$ 50 trilyun atau setara Rp 600 ribu trilyun (kurs Rp 12.000/dollar AS). Kerugian ini meliputi aset dalam bentuk saham, obligasi, dan mata uang.
Kerasnya “hantaman” krisis global sudah dirasakan dunia sejak “meloncatnya” harga minyak mulai tahun 2007 lalu yang kemudian secara massive diikuti oleh kehancuran sistem keuangan di Amerika Serikat dan di seluruh dunia. Dalam laporan terbaru Bank Dunia disebutkan ekonomi akan mengalami penciutan pertama sejak PD II.
Memburuknya perekonomian dunia sebagaimana laporan-laporan ekonomi terbaru yang dikeluarkan oleh berbagai negara, seakan-akan menjadi lebih suram dengan predeksi Nouriel Roubini. Menurut Roubini resesi global dapat berlanjut hingga akhir 2010. Hal ini disebabkan respon pemerintah dalam memperbaiki ekonomi “terlalu kecil, terlalu terlambat” kata Roubini.
Semakin dalam saja “luka” perekonomian dunia akibat “pukulan” krisis global. Setelah perekonomian AS mengalami kontraksi dan jumlah pengangguran membumbung, kini giliran perekonomian nomor dua dunia yang meradang. Defisit neraca transaksasi berjalan Jepang telah mencapai rekor baru, tertinggi sejak 1996.
Krisis global yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun semakin menunjukkan kekuatannya dalam “memukul” perekonomian dunia. Hampir tidak ada satu pun negara yang tidak terlewati “pukulan” krisis global.