
Ekonomi Syariah atau ekonomi Islam dengan Kapitalisme bagaikan surga dengan neraka. Posisi berlawanan baik dari sisi akidah maupun aturan membuat keduanya tidak mungkin berada untuk saling memajukan.
Berkaitan dengan hal ini, pakar marketing Indonesia, Hermawan Kartajaya sebagaimana diberitakan Kompas.com (11/7/2009), menyatakan kehadiran Boediono di tampuk kekuasaan sebagai wakil presiden akan memajukan ekonomi Syariah di Indonesia dan dunia internasional.
EKONOMI : Data BPS Oleh Hidayatullah Muttaqin Awal bulan ini (1 Juli) Badan Pusat Statistik merilis Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2009 yang berisi data perkembangan kemiskinan terkini. Dalam profil tersebut disebutkan, angka kemiskinan di Indonesia pada Maret 2009 menurun sebanyak 2,43 juta dibandingkan Maret 2008. Menurut BPS angka kemiskinan turun dari 34,96 juta (15,42%) [...]
Neoliberalisme tidak dapat dipisahkan dengan dua lembaga keuangan internasional yang diciptakan untuk mengawal kepentingan Barat dan korporat global. Dalam hal ini, penyebaran dan aplikasi kebijakan neoliberalisme di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia, salah satunya berkat kontribusi Bank Dunia.
Saat ini perbincangan tentang Neoliberalisme telah lepas dari akar ideologinya (Kapitalisme), sehingga banyak yang memandang Neoliberalisme hanya sebatas “isme” anti intervensi pemerintah dan anti subsidi. Karena itu pula pasangan SBY-Boediono mengklaim pemerintahannya bukanlah pemerintahan Neoliberal melainkan pemerintahan yang menjalan kebijakan ekonomi jalan tengah. SBY beralasan pemerintahannya masih menerapkan intervensi dan subsidi, termasuk program BLT dan PNPM Mandiri.
Setelah kita sebelumnya mendengar serangkaian bantahan Neolib dari para pejabat negara dan ekonom, termasuk “ketidakmengertian” Deputi Senior Gubernur BI Miranda S. Goeltom, kini Ketua MPR Hidayat Nurwahid menyatakan hal serupa.
Dalam diskusi ‘Boedionoomics’ di Hotel Borobudur (26/5/2009), Chatib mengemukakan, tidak ada jejak neoliberal pada ekonomi Indonesia sejak dulu hingga Boediono memegang jabatan tinggi dalam pemerintahan. Inilah “dusta kaum neolib” yang “banci” tidak mau mengakui bahwa mereka dan sejumlah pejabat negara adalah orang-orang neolib.
Hakikatnya, ekonomi Neoliberal dengan Kapitalismenya telah mengalami kebangkrutan ide dengan kegagalan Neoliberalisme menanggulangi krisis berdasarkan ide dasar kaum neolib, yakni laissez faire. Namun tidak bisa dipungkiri, institusi Neolib masih tegak di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Hari ini (18/5/2009) di Kompas halaman 15 saya membaca sebuah tulisan seorang ekonom yang memuji setinggi langit CaWapres Boediono. Tulisan tersebut berjudul Tantangan BI Sepeninggalan Boediono. Memuji Boediono setinggi langit tentu saja sekalian bertepuk tangan atas prestasi ekonomi pemerintahan SBY.

Neoliberalisme (neoliberalism) merupakan sekumpulan kebijakan ekonomi yang merujuk kepada pemikiran bapak ekonomi Kapitalis Adam Smith. Kelahiran neoliberalisme tidak dapat dipisahkan dari keberadaan ideologi Kapitalisme. Sedangkan realitas krisis ekonomi yang terjadi secara berulang-ulang pada dasarnya cermin kegagalan Kapitalisme memelihara ekonominya.
Forum Ekonomi Davos merupakan simbol dan alat perjuangan bagi Neoliberalisme dalam mempromosikan ide-ide yang terkait dengan Washington Consensus. Ide-ide dalam Washington Consensus antara lain; negara tidak boleh campur tangan dalam perekonomian, swastanisasi atau privatisasi, liberalisasi pasar dan modal, pengurangan pajak bagi orang kaya dan pemotongan pengeluaran sosial atau penghapusan subsidi.